Friday, 13 May 2016

Antara Premium, Pertalite, dan Pertamax


Gambar : google

Kalau ngomongin BBM sudah pasti bakal seru. Noh liat aja di tv pada bedebat soal BBM. Mulai dari kebijakan pemerintah, Pertamina dan tentu saja harga yang mesti dibayar masyarakat untuk mendapatkan BBM. Mau gimana lagi, BBM merupakan salah satu penggerak ekonomi sehingga ketersediaan bahan pangan dan kebutuhan lain selalu tertuju pada BBM. Ketika harga BBM naik maka harga kebutuhan pokok jelas naik karena cost untuk produksi dan distribusi juga naik. Tapi ketika harga BBM turun belon temtu harga kebutuhan juga turun. Ini kan repot buat masyarakat dengan penghasilan yang pas.
Dan menuju tahun 2016 ini, BBM akan turun lagi. Yaa…mendinglah dari pada mendengar BBM mau naik lagi. Toh kalau ngisi di SPBU ya tetap sama Rp 15.000 saja…Pertalite bro..jupe x ku premium kl lg seret…wkwkwkwkwk..tp napa yang mobil-mobil keren gak yah…ngisi premium…hhhhhhh… Baru beberapa bulan c pindah pake perta bukan premium.
Sedikit berbagi info. Menurut Wikipedia, premium adalah jenis BBM yang mengandung oktan 88 yang merupakan spesifikasi terendah diantara BBM jenis lain. Sisi lemahnya, kata Wikipedia jika digunakan dalam kompresi yang tinggi akan membuat mesin mengalami knocking atau ngelitik sebab premium di dalam mesin akan terbakar dan meledak tidak sesuai dengan arah gerakan piston sehingga terjadi pengurangan tenaga dan inefisiensi. Hmmm…..begitu yah…
Masih dari wiki, Pertalite merupakan varian BBM dari pertamina yang mengandung RON 90 diatas premium yang ditambah dengan zat aditif EcoSAVE tetapi harga lebih murah dibanding pertamax. Dengan demikian, pertalite akan membuat mesih lebih halus, bersih dan irit. Sedangkan pertamax merupakan produk pertamina non subsidi dengan moto Performa Maksimal. Pertamax direkomendasikan untuk teknologi setara EFI dan kompresi 9,1-10,1. Pertamax mengandung oktan atau RON yang lebih tinggi dari Premium dan Pertalite yaitu 92 sehingga dapat bekerja dengan optimal bersama gerakan piston. Hal ini akan memaksimalkan tenaga kendaraan dan bebas dari knocking.
Silahkan pilih mau menggunakan BBM mana untuk kendaraan kesayangan kita. Lo mau prem ya sabar ngantri, ngantri prem sesame motor c gak masalah lo ada mobil jenis Ava-Xen gitu yang bikin kesel dah pke mobil msh rebutan yang subsidi. Yah mau gmn lagi sesame warga negara. Kalau mau cepet dan berkualitas ya pke perta taw pertamx.
Ngomongin SPBU jadi inget kejadian ngeselin ama pegawe e. waktu ntu awal-awal pertalite dluncurin. Kan penasaran pengn pke perta. Di SPBU sebelah yang lebih kecil sudah ada perta tetapi wkt tu di SPBU langganan yang lebih deket rumah belon ada. Waktu ngisi iseng nanya ma pegawe e perempuan. “Mba..pertalite wis ana pa urung?”  (Mba..pertalite sudah ada pa belum) Mba e njawab “Lah pada bae..pertamax sisasn bae kieh..kader kaceke sepiraha be…” (Lah..pertamax sekalian saja kan harga nya gak seberapa…) kambi jutek gt. Ngeselin bgt kan, ak sih meneng bae. Apa seperti itu standar pelayanan SPBU. Konsumen berhak mendapatkan informasi terkait dengan apa yang menjadi kebutuhannya. Kalau memang belum ada kenapa menjawabnya harus jutek gt, apa pertanyaan saya salah???
Tapi ya sudahlah mungkin tu perempuan lagi sensi entah karena apa. Tapi jika ke SPBU itu lo pas dia yang nglayanin ak pilih pindah ke stand laine males inget ky gt mungkin bagi dia yang sudah jadi pegawe SPBU bertahun-tahun gajie dah gak masalah ngisi pertamax tiap hari tp namae juga hidup kadang ada rezeki lebih ya menyempatkan untuk jupe kesayangan minume pertamax lo lg gak da ya keduax aja…hehehe.
Begitu gan..salam buat rider lintas komunitas lo lg mudik taw touring via Ajibarang Banyumas mampir saja. (jr_Des 15)

Wednesday, 11 May 2016

Telomoyo Gagal...

Sudah sangat kita kenal ungkapan yang mengatakan semua berawal dari niat, dan kita juga paham bahwa  kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, meski dalam hal ini saya tidak terlalu setuju karena selama ini jika gagal dan kita tidak pernah mencoba kembali maka kegagalan tidak akan berubah menjadi kesuksesan.
                Nampaknya benar bahwa teori lebih mudah dipelajari dari pada praktek hal ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kami yang pada satu masa menamakan diri Fatmah Ekspedition yang harus mengalami kegagalan di petualangan pertama dan akhirnya menjadi petualangan terakhir yang diikuti anggota lengkap karena meskipun ditebus oleh satu petualangan lain oleh sebagian anggota namun tetap saja kegagalan ekspedisi pertama terasa begitu menyakitkan.
                Bermula ketika memasuki masa akhir studi yaitu menyelesaikan tugas akhir skripsi. Ditengah tekanan mental untuk segera menyelesaikan skripsi dan juga tingkah polah dosen pembimbing yang kadang nyebeli tur maregi  maka menjadi pilihan cerdas untuk sejenak refresing menyegarkan pikiran dari kepenatan rutinitas bimbingan yang pada saat itu tidak pasti untuk sampai kapan. Pilihan pun tertuju pada hiking ke Pegunungan Telomoyo yang terletak di perbatasan Magelang dan Kabupaten Semarang. 

                Persiapan pun dilakukan dengan menyusun map perjalanan serta mencari guide sebagai pendamping. Kita memutuskan untuk tidak membawa kendaraan dengan pertimbangan keamanan dan dititipkan di rumah teman di Magelang setelah menempuh perjalanan 45 menit dari Kota Jogja. Sesampainya disana, rombongan harus menyusuri jalan beraspal untuk sampai ke puncak dengan perkiraan waktu sekitar 30 menit. Karena  dianggap tidak menantang naik gunung tetapi lewat jalan aspal maka tercetuslah ide untuk memotong jalan mencari jalan sendiri melewati rimbunan pohon, semak dan ilalang. Setelah mendapat persetujuan termasuk dari guide dadakan maka kami pun mencari jalan sendiri padahal itu untuk pertama kali menapak di Telomoyo dan tentu saja beresiko. 


Dengan rasa percaya diri dan semangat kami melalui jalan setapak yang nampaknya sering digunakan penduduk sekitar. Hal ini menambah keyakinan kami untuk tetap melanjutkan perjalanan. Naik, naik dan terus mendaki sesekali beristirahat memandang sekitar yang nampak indah melihat kota dari ketinggian tidak lupa narsis untuk kenang-kenangan.

Tim semakin jauh memasuki hutan garapan berlatar pohon pinus lengkap dengan semak ilalang serta panas terik pertanda hari makin siang. Sampai saat itu, kami merasa semuanya baik-baik saja jalan setapak masih nampak jelas walau kami tidak tahu kemana jalan ini akan berakhir. Yang pasti, kami harus tetap melaju ke atas sampai ke puncak. Akhirnya tim terdepan mulai kehilangan jejak jalan dan berhadapan dengan sulur berduri serta ilalang rapat rimbun terasa perih saat mengenai kulit. Tim tidak membawa peralatan apa pun hanya jacket dan tas berisi air mineral. Kami memaksa untuk melanjutkan, ilalang itu pun kami terabas dengan hanya sepatu dan jacket melindungi badan. Injak dan terus injak hanya itu yang bisa dilakukan sampai akhirnya kami terbebas dan kembali menemukan jalan. Sebenarnya kami tidak tahu itu jalan setapak atau bukan.
Kerongkongan terasa kering, kulit terbakar matahari perih terkena alang-alang. Kemudian sampai disebuah tempat yang tinggi dimana kita dapat melihat ke segala arah nun jauh di sana Pegunungan Sindoro-Sumbing dan pemukiman penduduk nampak ramai entah daerah apa tidak begitu jelas. Tim istirahat masing-masing menatap kosong entah apa yang dipikirkan, sejenak membayangkan seandainya sekarang di costan waktunya pergi ke warung depan indomart membeli makan lauk tempe dua seharga Rp 4.000,- dan 1 ler Djarum Super disambi liat Awas ada Sule hidup terasa damai (hehe....). 

Beberapa dari kami mencoba memulai mencari jalan keluar nampaknya di depan kami adalah semak belukar liar yang mustahil kami terabas tanpa peralatan. Lainya masih terduduk terdiam menikmati sepoi-sepoi angin pegunungan memakan bekal yang tersisa karena perut sudah terasa lapar yaitu roti dan sriping (?). Kami tidak menemukan jalan keluar dari tempat itu kecuali turun. Kami kembali terdiam karena sepertinya kita tidak akan pernah sampai ke puncak. Sangat disayangkan setelah perjuangan mendaki yang tidak mudah. Mencari dan terus berusaha melewati semak belukar namun tetap sia-sia meski puncak sepertinya sudah mulai terlihat.
 
Dengan pertimbangan waktu yang semakin siang belum lagi perjalanan pulang maka dengan berat hati rombongan turun dengan tidak mencapai puncak. Sangat kecewa, padahal jika melewati jalan beraspal pasti hasilnya akan berbeda. Rombongan pun turun gunung membawa perasaan dongkol meskipun menyetujui untuk segera pulang. Seperti biasa perjalanan pulang terasa lebih cepat dan anehnya kami selalu menemukan jalan setapak sehingga kami cepat sampai di jalan beraspal untuk kembali pulang. Kami dalam hati tertawa ada jalan mudah namun kami pilih tidak menggunakanya. Namun bagi kami petualangan ini akan menjadi kenangan tak terlupakan kebersamaan yang mungkin tidak akan terulang kembali mengingat dalam beberapa bulan setelahnya, kami dinyatakan lulus dan menempuh jalan masing-masing. Salam untuk semua dari Fatmah Ekspedition.(jr/march2012).


     

Tuesday, 8 December 2015

Keindahan Ramang Maros Sulsel


Aktivitas traveling tengah populer dan makin banyak digandrungi belakangan ini. Hal ini tak terlepas dari peran media sosial yang nyaris tiap detik memunculkan unggahan-unggahan gambar tempat wisata keren yang menggelitik para traveler untuk datang.
Seperti tempat wisata berikut ini yang mendadak populer karena media sosial. Di Sulawesi Selatan, jika Anda mau menengok sedikit lebih dalam, Anda akan menemukan surga tersembunyi yang begitu indah.
Adalah Rammang Rammang Maros. Wisata alam di kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang belum tersentuh modernisasi.
Di Rammang Rammang Maros traveler akan menyaksikan keindahan pegunungan Karst. Berbeda dengan pegunungan karst di daerah lain. Rammang Rammang Maros merupakan pegunungan kapur dengan tumbuhan yang hidup subur di permukaan batunya. Fenomena ini hanya satu-satunya di Indonesia.
Rammang Rammang Maros juga merupakan pegunungan kapur terluas ketiga di dunia setelah Cina Selatan dan Vietnam.
Tempat ini persis terletak di dusun Rammang Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa. Dari pusat kota Makassar dapat dijangkau sekitar 1,5 sampai 2 jam dengan berkendara ke arah utara.
Panorama yang disuguhkan tempat ini akan membuat Anda tidak percaya jika Rammang Rammang Maros ada di negeri sendiri.
Bahkan banyak orang mengira tempat ini berada di Krabi, Thailand. Hanya saja, bedanya Rammang Rammang Maros dikelilingi sungai dan persawahan, bukannya pantai.
Untuk berkeliling di tempat ini, traveler bisa menyewa sampan dengan tarif Rp100-150 ribu pada warga sekitar.
Nah, Anda yang ingin berlibur, tak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Karena Indonesia punya segudang tempat yang lebih menarik untuk dikunjungi seperti Rammang Rammang Maros.
Sumber : Dream.co.id

Friday, 27 November 2015

Puisi untuk guru ku

  

Hari guru, tanggal 25 November kemarin. Bagi kami para pendidik merupakan moment untuk menilai diri baik pribadi atau pun tentang pembelajaran di kelas. Diri pribadi guru merupakan contoh bagi siswa. Sehingga menjadi keharusan menjadi pribadi yang menyenangkan dan menginspirasi. Kepada pemerintah harusnya mempu memberikan perhatian lebih bagi kami yang honoren non kategori untuk mendapatkan kesejahteraan. Tentu kami akan terus belajar dan memperbaiki diri untuk pendidikan di Indonesia. 
Dan kemarin dapat puisi dari anak-anak kami, kelas 3 SD. Terimakasih anak-anak ku..pak guru harap kalian menjadi genersi terbaik di negeri ini. (jr_nov 15) 

Tuesday, 24 November 2015

Menghitung Pajak PPN dan PPH


Pajak merupakan pungutan yang dilakukan oleh pemerintah kepada para wajib pajak. Para wajib pajak terdiri dari individu, badan pemerintah juga badan usaha. Penerimaan pajak akan digunakan untuk pembangunan fasilitas umum yang juga masuk penerimaan negara dalam APBN. Meskipun jadi teringat kasus Kang Gayus yang tajir gara-gara menggelapkan pajak. Tapi kita positif thinking saja, semoga tidak ada Gayus-Gayus lain.
Nah kali ini saya hanya akan berbagi cerita sedikit tentang bagaimana menghitung pajak PPN dan PPh pasal 22. Hal ini secara kebetulan menjadi salah satu pengelola BOS dan juga DAK tahun 2015 ini di sekolah. Dalam petunjuk teknis pengelolaan BOS dijelaskan tentang kewajiban memungut pajak untuk beberapa transaksi misalnya belanja modal dengan nilai lebih dari Rp 1.000.000,00.
Untuk menghitung kedua pajak tersebut, kita harus menentukan DPP terlebih dahulu. DPP adalah Dasar Pengenaan Pajak. Penghitungan DPP dari nilai transaksi sedangkan penghitungan PPN dan PPh pasal 22 dari nilai DPP. Rumus lengkapnya berikut:
1.      Cara menghitung DPP
DPP = 100/110 x harga barang
Contohnya, jika kita belanja modal sebesar Rp 5.000.000, maka DPP nya adalah
100/110 x 5.000.000 = 4.545.455, nilai disamping adalah DPP
2.      Cara menghitung PPN
Seperti dijelaskan di atas bahwa menghitung PPN adalah dari 10% dari DPP, maka:
10/100 x 4.545.455 = 454.545
3.      Cara menghitung PPh pasal 22
Dan untuk PPh pasal 22 adalah:
1,5/100 x 4.545.455 = 68.182
Namun kadang ada beberapa toko/rekanan yang menghitungya berbeda. Entah karena tidak tahu atau kenapa. Lebih baik, jika toko/rekanan mempunyai NPWP dan bersedia membayar pajak, maka memudahkan kita sehingga tinggal meminta bukti setoran pajak. Namun jika tidak mempunyai NPWP maka kita atau sekolah yang harus membayarnya dengan meminta biaya pajak kepada penjual.
Demikian sekiranya bermanfaat share, komentar dan saran monggoh. (jr_nov 15)


Sunday, 22 November 2015

Resep Membuat Pisang Coklat (Piscok) Rumahan

Piscok/foto google
Piscok atau pisang coklat ternyata mudah membuatnya. Makanan ini enak dan pas dinikmati bareng keluarga sambil mritil brambang juga boleh..hehehe… Di kantin atau warung-warung sekolah biasa dijual Rp 1000 - Rp 1.500 per 1 buah. Lumayan kan bisa buat jualan menambah pemasukan. Piscok juga bisa dihidangkan saat arisan, pertemuan keluarga, pengajian atau tahlilan bahkan untuk medang bapak/ibu guru di sekolah juga enak.
Langsung aja, siapkan bahan-bahan dan mulai memasak…
Bahan-bahan:
5 buah pisang kepok matang
10 lembar kulit lumpia siap pakai
Coklat meises secukupnya
Minyak goreng secukupnya.
Cara membuat:
- Kupas pisang dan potong menjadi dua bagian
- Siapkan satu lembar kulit lumpia, letakan pisang yang telah di potong d atas kulit lumpia
- taburi dengan coklat meises secukupnya
- kemudian gulung menjadi sampai semua bagian pisang tertutup rapat
- goreng dalam minyak panas ( api sedang agar bagian dalam pisang matang merata)
- setelah berwarna kuning keemasan, angkat, tiriskan.
- piscok matang siap di hidangkan. J (Nov/15)

Thursday, 19 November 2015

Bis Mania ; Efisiensi Purwokerto - Jogja



            Pernah lihat bis ini ? Kalau gak walahhh…coba ke terminal Purwokerto pasti ada kecuali lagi di jalan, hehe….awalnya bis dengan nama keren Efisiensi a.k.a Efi, melayani rute Cilacap – Yogyakarta kemudian meluaskan jaringan yaitu melayani Purwokerto – Yogyakarta. Menurut saya, rute Pwt-Jogja malah lebih ramai. Karena banyak mahasiswa dari sekitar purwokerto yang kuliah di Jogja. Kebetulan saya juga sempet kuliah disana dan menjadi salah satu penumpang pelopor Efisiensi. Saat itu kebetulan sedang dalam perjalanan naik bis eko ke Jogja habis mudik dan disalah satu lampu merah sempet bersebelahan. Akhirnya melihat kok kaya nyaman banget gitu kan. Bis keren, nyaman ber AC, tidak ada pedagang dan pengamen. Tapi saat itu belum ada trayek Pwt-Jogja. Jadi hanya membayangkan saja. Eh beberapa bulan atau hari waktu edisi mudik lagi sudah melayani jurusan Pwt-Jogja terlihat dari tulisan di kaca depan bis. Langsung saja saya stop dan naik dari Dongkelan Jogja. Wehh…seperti mimpi yang jadi kenyataan..hehehe…memang sih saya dari kecil suka sekali melihat bis-bis keren dan besar.
Waktu itu, tarifnya masih Rp 35.000, plus soft drink murah kan? Menurut saya sih sebanding dengan fasilitas dan kenyamanan.  Paling suka duduknya di belakang sendiri lebih tinggi dan pandangan jauh ke depan, walaupun harus berjibaku kesundul-sundul sampe kejedot atap jika melewati tanggul. Pada hari-hari biasa penumpang ya biasa saja. Tapi pas musim libur sekolah/kuliah siap-siap saja berebut tempat duduk apalagi di terminal. Meskipun ramai pihak bis tetap mengangkut penumpang sesuai jumlah tempat duduk. Tapi pernah lho, saking ramainya dan banyak penumpang dijalan pihak bis sampai menggunakan kursi plastik ditengah itu pun karena permintaan dan memaksa kondektur bis karena tidak ada angkutan lagi pas lagi mudik lebaran.
Pernah lho naik efi ke Jogja tetapi lewat jalur alternatif yaitu Petanahan. Jand kan ora biasane apa ngindari polisi apa kepriwe sampai hari ini belum terjawab..heheh…trus kondekturnya pada suatu hari pernah cerita jika mereka sistemnya sewa. Waktu itu, sewa bis per hari adalah Rp 2.000.000, jadi jika dalam sehari mereka dapat melebihi maka untung tapai jika pas atau kurang mereka akan merugi. Dengernya sih kaya gitu.
Sampai masa akhir kuliah karena beralih ke motor mengingat kegiatan KKN dan skripsi tarif terakhir yang saya nikmati adalah Rp 40.000, plus softdrink. Semoga bis efi tetap melayani penumpang dengan baik. Salam bis mania!!! (Nov 2015).